Memulai
Hari biru bahteraku
Beranjak dari tetes embun
Yang menyulam sekejap
Kabut
Selaras mega merah
Akulah jalanku
Berderap citaku, gugur
Bergemuruh asaku, tenggelam
Kini ku memulai
Haru biru baru
Tanpa warna memerah
Membalut kesenduan, selalu
Aku memulai
Senin, 29 Juni 2015
Puisi, DIA [1]
Selasa, 16 Juni 2015
Ratih
"Jika aku besar nanti aku mau jadi model catwalk, biar bisa nyobain baju-baju bagus tanpa perlu beli," ujarku berangan-angan, "tapi pastilah nggak akan dibolehin sama mama, mama maunya aku jadi dokter!" dengusku kesal.
"Aku mau jadi pilot, biar bisa keliling dunia," kali ini Abdil yang berkomentar. Dia memang sangat menyukai pesawat terbang, bahkan dia mempunyai banyak mainan berbentuk pesawat terbang di rumahnya.
"Aku mau jadi pembalap, ngeeeng ngeeeng ciiit...," ujar Sofyan memperagakan tangannya seperti sedang memegang setir mobil.
"Emangnya boleh sama papi kamu, Sof?" kami semua tahu kalau papi Sofyan sangat overprotektif, apalagi kalau soal menantang bahaya menjadi seorang pembalap.
Sofyan menggeleng, "aku benci papi!"
Pandangan kami bertiga tertuju pada Ratih, dia tersenyum pahit.
"Aku mau seperti kalian yang masih punya keluarga, tidak kesepian, mendapat kasih-sayang dan perhatian yang utuh."
Seketika itu juga aku, Sofyan dan Abdil saling melempar pandangan. Kami malu pada Ratih. Malu sekali.